Minggu, 10 April 2016

“Matahari Dari Lembana Mokallam”



“Matahari Dari Lembana Mokallam”

Pukul 07.30, pagi itu aku baru bangun. Boro-boro mandi, cuci muka saja saya malas, saya langsung sarapan dan ganti pakaian. tanpa pamit saya bersama Dante, Yudi, Antok dan teman-teman yang lain dengan bangganya mengenakan seragam putih-merah berjalan bersama-sama lewat jembatan bambu di “uba” menuju ke sekolah di Lomba’ atau SD INPRES 047 Salutabang. Nyaris saja terlambat. Masih di “petukasam”, kami sudah mendengar bunyi bel yang dipukul oleh Verdy, atas perintah dari bapak guru P. Naldi, kami  langsung menuju kebarisan berdasarkan kelas masing-masing. Setelah semua barisan disiapkan oleh ketua kelas, bapak guru P. Pirna  memberikan sedikit arahan lalu mengarahkan barisan mulai dari kelas 1 kemudian kelas 2 dan seterusnya sampai kelas 6 untuk mengarah keruang pertemuan samping kantor.
Sesampainya diruangan itu, lagu “Satu Nusa Satu Bangsa” dikumandangkan yang dipimpin oleh dirigen yang waktu itu oleh Neyen. Bapak guru yang memimpin apel tadi kembali melanjutkan arahannya dan setelah itu membubarkan pertemuan dan seluruh siswa mengarah kekelas masing-masing, kecuali kelas 2 yang menunggu diluar sampai jam 10 setelah kelas 1 pulang.
Jam belajar dipergunakan dengan lancar. Sesekali guru-guru kami yang terbatas berpatroli kekelas-kelas yang sedang asyik belajar  untuk  memantau jangan sampai ada yang “ mongngo’ ” (ada banyak guru-guru kami yang tercinta, P. Jakja, P. Pirna, P. Nakdi, P. Yuyuk, P. Sahi, P. Sippam, M. Antik, P. Iwan dan masih banyak lagi tapi yang hadir saat itu hanya P. Nakdi dengan P. Pirna)
Pukul 10:00, pak guru P. Nakdi kembali membunyikan bel pertanda waktunya keluar main. Saya bersama Risa molompat kegirangan keluar ruangan sambil teriak “keluar maiinnnnnnnn”. Kami bermain dan berteduh dibawah sejuknya pohon “Bahana’” yang rindang. Ada yang bermain “kimba’” di lantai, biasanya  berjejer beberapa kelompok dengan rapi, ada yang bermain “bom” , bahkan ada yang “siippi’-ippi’”.
Tanpa terasa waktu telah tiba pada pukul 11:00, pak guru kembali membunyikan bel pertanda jam belajar ke 2 dimulai. Semua murid mengarah ke kelas masing-masing.
Setelah beberapa saat belajar, bapak guru mengintrupsikan kepada Eri untuk memukul bel tanda selesainya jam pelajaran. Sekarang waktunya pulang. Teman-teman mengkremasi buku-bukunya kedalam tas kecuali saya dan beberapa teman yang lain hanya memasukkan kedalam laci meja lalu ditinggalkan menuju ruang pertemuan. Setelah sampai di ruangan itu, semua  ketua kelas kembali mengarahkan anggotanya untuk berbaris. Waktu itu bapak guru P. Pirna mengawali pertemuan dengan sedikit arahan lalu menunjuk Selmi untuk memimpin lagu “Padamu Negeri” dan Sem memimpin doa serta “mangkunci” Pidolin. Pidolin tinggal mengamankan semua ruangan (yang ada “happo-happonya” sementara kami langsung berhamburan keluar berlari bersama .  Demikianlah cerita saya yang singkat, mohon maaf  jika ada yang salah terlebih  jika ada yang merasa terganggu,atau pasti ada teman2 yang belum sempat tercatat. juga  mohon kritik dan sarannya.  Huhhh saya hampir menangis...  JJ

Naskah Drama Jenderal Shamila



ALLAH adalah  KASIH SEKALIGUS ADIL
Narator           :Dahulu kala ada sebuah kisah nyata yang terjadi di negara Rusia. Saat itu Rusia dipimpin seorang kaisar yang bertindak sangat diktator, dan setiap peraturan yang dibuat adalah hanya untuk kepentingan pribadi dan keluarga kaisar. Seorang jenderal yang bernama Jenderal Shamila yang tidak setuju dengan tindakan kaisar tersebut memberontak dengan rakyat yang mendukungnya, mereka bergerilya dari tempat ke tempat yang lain. Dengan kondisi bergerilya akhirnya pasokan makananpun cepat berkurang, dan akhirnya makananpun dijatah sehingga menyebabkan banyak orang yang kelaparan. Dalam kondisi ini akhirnya ada orang yang nekat mencuri bahan makanan.
Ibu:                 (Mencuri)
Narator            :Setelah terjadi pencurian, pengawal jenderal melapor.
Pengawal         : Lapor jendral! Telah terjadi pencurian
Jendral             : Ah... apa saja yang hilang?
Pengawal         : Kita kehilangan makanan.
Jendral             : Kumpulkan rakyat.
Pengawal         : siappp Jendral!
Pengawal         : (sementara berjalan diantara jemaat) Semua rakyat berkumpul!
Jendral             : Dengarkan rakyatku! Barang siapa yang kedapatan mencuri akan dihukum cambuk 50 kali.
Narator:           Dengan dikeluarkannya peraturan baru ini tidak ada orang yang berani melakukan pencurian. Satu minggu, 2 minggu dan 3 minggu berlalu tidak ada orang yang berani mencuri, minggu ke 4 ada orang yang berani mencuri bahan makanan.
Ibu                   : (Mencuri)
Narator:           Ketika terjadi pencurian pengawal jenderal melapor:
Pengawal: "Lapor jenderal, ada orang yang berani mencuri bahan makanan"
Jendral             : apa? Apa saja yang hilang?
Pengawal         : Bahan makanan.
Narator:           mendengar laporan ini jenderal Shamila sangat marah, bukan hanya karena terjadinya pencurian tetapi orang yang mencuri tersebut membantah dan memberontak terhadap peraturan yang dibuat oleh jenderal Shamila.
Jendral             : cari sampai dapat, kita harus menjalankan keadilan!
Pengawal         : siap jendral ( setelah itu, pengawal mencari dan menghadapkan si pencuri pada jendral)
Jendral             : buka !
Ibu                   : (menangis) maafkan ibu anakku.
Jendral             : Ibu, mengapa ibu melakukan ini semua?
Narator:           Jenderal Shamila bingung harus berbuat apa karena: kalau dia tega menghukum ibunya orang akan berkata bahwa Jenderal Shamila adalah jenderal yang tidak punya kasih, anak durhaka yang tidak tahu berbalas budi, sebagian rakyatnya pasti tidak akan mendukung dia lagi, dan kalau dia tidak menghukum ibunya maka orang-orang akan berkata bahwa dia bukan jenderal yang adil, maka sebagian orang tidak akan mendukung dia lagi.
Rakyat             : (gaduh) hukum dia? Jangan hukum dia.
Jendral             : Tenang rakyatku, tenang! Keadilan harus ditegakkan, hukuman harus dijalankan.
Jendral             : algojo! (algojo menghadap jendral) cambuk dia 50 kali!
Algojo             : tapi jendral?
Jendral             : tidak ada tapi-tapian, cepat!
Pengawal         : 1...2....
Jendral             : stoopppp!
Jendral             :(Jenderal Shamila maju menghampiri ibunya) "Ibu aku mengasihi engkau, aku tidak ingin ibu dihukum cambuk, tapi sebagai seorang jenderal yang adil hukuman harus tetap dijalankan". (Kemudian, Jenderal Shamila memerintahkan algojonya mencambuk Jenderal Shamila sebagai pengganti ibunya).
Ibu                   : (menangis)
Narator:           Dari cerita ini jelas terlihat bahwa Kasih dan Keadilan dapat bertemu kalau ada pengorbanan. Nach, demikian juga ALLAH yang mahapengasih dan ALLAH yang adil menyatakan kasih dan keadilanNya melalui pengorbanan diriNya di dalam diri YESUS Kristus......